Reformasirakyatindonesia.com - Jakarta, 26 Juni 2025 — Sebuah subvarian baru COVID-19 dari keluarga Omicron, yang diberi nama NB.1.8.1 atau “Nimbus”, dilaporkan memicu lonjakan kasus di sejumlah negara Asia Selatan dan Tenggara. Negara seperti Bangladesh, Tiongkok, dan Singapura menunjukkan peningkatan signifikan dalam angka infeksi selama pertengahan Juni, bahkan disertai peningkatan jumlah kematian di wilayah dengan akses kesehatan terbatas.
Subvarian ini juga mulai terdeteksi di beberapa bagian Eropa. Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa (ECDC) memperingatkan bahwa penurunan kekebalan populasi setelah musim dingin 2024–2025 bisa membuka celah bagi penyebaran varian ini. “Mungkin akan ada lonjakan kasus selama musim panas akibat melemahnya kekebalan terhadap SARS-CoV-2,” ujar Ajibola Omokanye, pakar virus saluran pernapasan dari ECDC.
Meski disebut sebagai varian baru, Nimbus tidak serta-merta lebih mematikan. Namun, mutasi pada protein spike-nya berpotensi memengaruhi efektivitas vaksin dan kemampuan sistem imun dalam mengenali virus. Mutasi ini memungkinkan virus menghindari deteksi antibodi, sehingga memperbesar peluang infeksi ulang dan transmisi di komunitas.
Kondisi berbeda terlihat di Kanada, di mana Nimbus juga telah menyebar luas namun tidak memicu lonjakan angka keparahan. Ini menunjukkan bahwa efek subvarian sangat bergantung pada waktu kemunculan, cakupan vaksinasi, serta kesiapan sistem kesehatan masing-masing negara. "Waktu dan konteks sangat menentukan dampak suatu varian," kata Omokanye.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan ECDC telah mengkategorikan Nimbus sebagai Varian dalam Pemantauan (Variant Under Monitoring/VUM). Status ini menandakan bahwa varian memiliki mutasi genetik penting yang patut diwaspadai, meski belum ada bukti kuat mengenai peningkatan keparahan penyakit secara global.
Otoritas kesehatan di berbagai negara diimbau meningkatkan pengawasan genomik dan mempercepat distribusi vaksin penguat (booster), terutama kepada kelompok rentan seperti lansia dan penderita penyakit penyerta. “Penting untuk menjaga kewaspadaan, tidak hanya terhadap COVID-19, tapi juga virus pernapasan lain seperti flu dan RSV,” tambahnya.
Kementerian Kesehatan RI sendiri belum merilis pernyataan resmi mengenai keberadaan varian Nimbus di Indonesia. Namun, masyarakat diminta tetap menjalankan protokol kesehatan dasar dan mengikuti perkembangan vaksinasi sesuai arahan pemerintah. Informasi lanjutan terkait varian ini akan diumumkan seiring hasil pengamatan epidemiologis dan laboratorium nasional.
Red./DM


Posting Komentar untuk "Subvarian Baru "Nimbus" Picu Kenaikan Kasus COVID-19 di Asia, Eropa Diminta Waspada"